Showing posts with label kisah inspiratif. Show all posts
Showing posts with label kisah inspiratif. Show all posts

Putus Asa atau Berusaha,Motivasi Hidup

   Ada pepatah yang mengatakan hidup adalah sebuah pilihan, oleh karena itu sering kita menjumpai bahwa setiap kita sering dipertemukan dengan dua pilihan IYA atau TIDAK, SALAH atau BENAR, MENANG atau KALAH, PUTUS ASA atau BERUSAHA dimana kita harus memilih salah satu dari dua pilihan tersebut.

Pada cerita kali ini, kita akan membahas tentang kondisi dimana kita harus memilih untuk Putus Asa atau Berusaha. Berikut ini adalah ceritanya.

Hidup memang tidak selalu semudah yang diperkatakan oleh orang-orang, terutama oleh mereka yang telah sukses dan menuai banyak kemudahan di dalam kehidupan. Bagi yang sedang berupaya dan mencari kesuksesan itu sendiri, tentu semuanya akan jauh berbeda dan mungkin saja terasa jauh lebih sulit dari apa yang dibayangkan. Hal seperti inilah yang seringkali membuat sebagian orang menjadi mudah putus asa dan menyerah pada keadaan, lalu membiarkan mimpi-mimpi mereka terkubur semakin hari semakin dalam.

    Baca Juga : Kisah inspiratif Jalannya Terlalu Berat

Putus asa dan menyerah pada keadaan adalah sebuah tindakan yang salah, di mana semua perjuangan selama waktu yang panjang sebelumnya, akan menjadi sia-sia belaka. Namun, selalu ada orang yang menjadikan ini sebagai pilihan, bahkan ketika mereka masih memiliki kemungkinan untuk meraih kesuksesan yang mungkin saja tinggal beberapa langkah saja di depan.
Belajar dari seeokor kuda yang terperosok

Kisah ini mungkin saja tidak asing lagi, bahkan beberapa orang menulisnya kembali sebagai sebuah gambaran atas tindakan positif yang bisa dilakukan untuk membuat situasi menjadi lebih baik lagi, bahkan di saat-saat tersulit sekalipun.

    Di sebuah lokasi yang terletak di pinggiran kota, seekor kuda terperosok ke dalam sebuah lubang sempit yang dalam, tak kurang dari tinggi badannya yang terbilang jangkung itu. Pemiliknya mulai putus asa dan tidak tahu bagaimana mengeluarkan kuda tersebut dari dalam sana, bahkan meski dia dan para tetangga telah berupaya sepanjang siang yang terik hingga malam menjelang.

Lubang yang hanya menyisakan sedikit ruang untuk tubuhnya, membuat kuda tersebut tidak bisa menarik ancang-ancang untuk melompat keluar, terlalu sempit dan sulit untuk bergerak. Pemiliknya meneteskan air mata di sisinya, ketika memberinya minum melalui sebuah botol, untuk yang kesekian kalinya sepanjang hari ini. Kuda itu lega, sebab pemiliknya begitu menyayanginya, bahkan meski dia telah kelelahan untuk berupaya mengeluarkannya sepanjang hari ini.

Hari mulai gelap dan hujan turun perlahan. Kuda tersebut terdiam, seraya mengais-ngaiskan kakinya pada permukaan tanah yang mulai melunak. Dia tak bersuara, sebab tak ingin pemiliknya bersusah hati memikirkannya, sementara malam masih sangat panjang.

Hujan semakin deras dan kuda tersebut mulai kedinginan, namun dia tak juga bersuara. Kedua kaki depannya mulai digerakkan untuk mengais tanah di depannya yang kini basah tersiram air hujan. Sedikit demi sedikit, dimulai dari bagian depan kakinya yang sempit, kemudian mulai naik ke atas, hingga bagian bawah lubang itu semakin luas. Kakinya kini mulai bebas bergerak, ada ruang kosong dengan timbunan tanah basah di dalam lubang tersebut. Kuda itu mulai kelelahan, namun dia tak juga menyerah.

Hari lepas tengah malam dan kuda tersebut masih saja mengais tanah dengan semangat. Setengah bagian lehernya kini tampak ke permukaan, dasar lubang semakin meninggi oleh timbunan tanah. Untung saja hujan datang, rasa hausnya menjadi tidak terlalu berlebihan. Dia meraba sisi lubang yang kini semakin lebar, mengaiskan kembali kaki depannya ke tanah yang semakin melunak. Mengais kembali dan tidak berhenti, tak menyerah meski tubuhnya telah begitu lelah.

Fajar datang dan dengan sigap kuda tersebut meloncat keluar, menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil berusaha menepikan tanah dan lumpur di sana. Kuda yang hebat dan tangguh, yang berupaya dengan kuat untuk melalui malam sulit dan sangat melelahkan. Bahkan meski pada pandangan semua orang di sekitarnya, keberhasilannya adalah sebuah kemustahilan.

Kisah inspiratif ini menceritakan sebuah kondisi dimana kita dihadapi oleh 2 pilihan putus asa atau berusaha? Pada cerita ini tokoh utamanya adalah seekor kuda yang berusaha berjuang tanpa menyerah untuk keluar dari lubang yang mengurungnya. Rasa dingin dan letih tidak membuat kuda ini putus asa sampai akhirnya sesuatu yang bisa dibilang tidak mungkin (keluar dari lubang) akhirnya bisa dilakukannya. Di cerita ini kita bisa belajar bahwa segala hal yang kita anggap mustahil itu bisa terjadi, yang terpenting adalah kita tidak boleh menyerah dengan situasi yang terlihat mustahil untuk dilakukan, selama ada kemungkinan untuk berhasil walaupun jika di ibaratkan atau dituang kan dalam persentase adalah 1 % berhasil dan 99% adalah gagal. Jangan menyerah sebelum mencoba. Lakukanlah selama ada kemungkinan berhasil walaupun hanya 1%, lakukanlah, cobalah jangan menyerah sebelum memulai. Kalau kita menyerah sebelum memulai maka itu sama saja kita gagal. Semoga cerita ini bermanfaat untuk kita semua.

Kisah inspiratif Jalannya Terlalu Berat

   Diceritakan, ada seorang pemuda yang akan menemui saudaranya di suatu desa. Dia bertanya kepada pamannya, di mana rumah saudaranya itu. Pamannya membuatkan sebuah peta agar pemuda ini bisa sampai ke desa dimana saudaranya tinggal. Dengan berbekal peta itu, si pemuda pun berangkat.

Namun, beberapa saat kemudian, si pemuda itu kembali lagi ke rumahnya. Saat ditanya dia menjawab, “Jalannya terlalu berat. Terlalu mendaki dan berliku. Belum lagi bebatuan serta jurang di sisi jalan-jalan menuju desa itu.”

“Berapa umurmu?” tanya si paman.

“Saya 25 tahun paman. Ada apa dengan umur saya?” tanya si pemuda itu.

“Tahukah kamu, kapan saya terakhir ke desa itu?”

“Kapan paman?” tanya si pemuda.

“Terakhir saya ke desa tersebut, saat saya berumur 49 tahun, yaitu dua tahun yang lalu.” jawab si paman.

“Apa maksud paman?”

“Artinya, jalan ke desa itu memang berat. Pertanyaanya adalah, kenapa paman bisa? padahal saat itu umur paman 49 tahun? Sementara, kamu yang masih berumur 25 tahun, mengatakan terlalu berat.” kata si paman.


Si pemuda itu terdiam. Kemudian dia berkata, “Pada kenyataan saya tidak bisa melalui jalan itu, paman. Apa yang harus saya lakukan?”

Si paman tersenyum. “Itu maksud paman!”


“Bisa dijelaskan paman?” tanya si pemuda kebingungan.


“Sebelumnya, kamu mengatakan ‘jalannya terlalu berat’. Kamu menyalahkan kondisi jalan. Tetapi, baru saja kamu mengatakan ‘saya tidak bisa’. Kamu tahu perbedaanya?” tanya si paman sambil tersenyum.

Si pemuda ngangguk-ngangguk. “Artinya, masalah itu ada pada diri saya?”

“Ya, tentu saja. Kamu mulai mengerti. Ada mindset atau pola pikir yang harus kamu perbaiki. Ini untuk kemajuan kamu sendiri.” jelas si paman.


BACA Juga : Cerpen-Dialah SAHABAT KU SATU-SATUNYA


“Sering kali, saat kesulitan itu ada, orang lebih sering menyalahkan apa yang ada di luar dirinya. Kamu mengatakan, jalannya terlalu berat. Jalannya memang berat, namun yang kamu lupakan ialah bahwa kamulah yang tidak sanggup atau tidak bisa melalui jalan tersebut.” jelas si paman.

“Lalu, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya harus belajar dan berlatih untuk melalui jalan itu?” kata si pemuda.

“Tentu saja, jika memang kamu tidak bisa. Jika kamu tidak bisa, maka kamu harus belajar dan berlatih.” jelas di paman.

“Tapi… jalannya sangat panjang dan curam.” kata si pemuda.

“Eit…!”, kata si paman sambil mengacungkan telunjuknya. “Kamu menyalahkan kondisi jalan lagi.”

“Oh iya. Saya lupa paman. Apa yang harus saya lakukan?”

Si paman tersenyum, kemudian dia menjelaskan:

“Jika jalan yang akan ditempuh sangat panjang, maka langkahkan kakimu satu langkah. Niscaya, jalan yang akan kamu tempuh sudah berkurang satu langkah. Kamu mengerti maksud saya?”

“Baiklah paman, saya mengerti. Sepertinya saya harus belajar cara melalui jalan itu. Saya memang tidak bisa.” kata si pemuda itu.

“Bagus, pelajaran pertama sudah kamu pahami. Jika tidak bisa, artinya kamu harus belajar dan secara bertahap. Namun ada satu pelajaran lagi yang harus kamu pahami sebelum kamu mengatakan tidak bisa.” jelas si paman.

“Apa itu paman?” si pemuda kembali penasaran.


“Sekarang, kita pergi ke jalan yang berat itu. Benarkah kamu tidak bisa?” kata si paman.

“Saya harus mencobanya?” tanya si pemuda.

“Ya tentu saja, kamu harus mencobanya. Tapi, sebelum mencoba ada hal yang harus kamu perhatikan. Yuk, kita ke sana.” ajak si paman.


Mereka pun langsung pergi menuju jalan yang berat, menanjak dengan sangat curam dan diapit oleh jurang-jurang yang dalam.

“Sekarang, kita duduk di warung kopi itu sambil ngopi.” ajak si paman sambil menuju sebuah warung kopi. Di warung kopi itu, mereka bisa melihat jalan yang berat tersebut dan aktivitas yang ada di jalan tersebut. Mereka pun memesan kopi sambil memperhatikan jalan.

“Lihat itu!” kata si paman, sambil menujuk ke seseorang yang berjalan, mendaki jalan yang dikatakan berat itu sambil memikul dua karung besar berisi rumput.

Si pemuda pun itu langsung melihat orang tersebut.

“Kamu tahu? Dia hampir setiap hari melalui jalan terjal itu untuk mengangkut rumput yang cukup berat. Ya, sekitar 50 kg.” kata si paman.

“Sekarang saya mengerti paman. Jika si bapak yang mengangkut rumput saja bisa, maka saya yang tanpa beban pasti bisa.” kata si pemuda dengan penuh antusias.

“Itu maksud paman, kamu pasti bisa. Tapi ada yang salah.” kata si paman sambil tersenyum.

“Apa yang salah paman?” kata si pemuda kaget. Dia sudah merasa cerdas, tetapi masih ada yang salah.

“Yang mengangkut rumput itu bukan bapak-bapak, tetapi dia bibi Mirnah yang usianya seumur paman (51 tahun). Dia teman paman.”


***
Kisah inspiratif Belajar dari tukang bakso

Kisah inspiratif Belajar dari tukang bakso

Belajar dari tukang bakso | kali ini saya akan sedikit membagikan sepengal kisah mengenai tukang bakso yang barang kali bisa kita ambil manfaatnya. Cerita ini saya ambil dari salah satu kisah yang saya dapet di Televisi, menarik pula saya pikir untuk di ceritakan ulang. Karena yang namanya inspirasi dan ilmu, bisa kita peroleh darimana saja dan kapan saja, yang penting tinggal bagaimana kita untuk memanfaatkannya, dan mudah mudahan ini bisa menjadi inspirasi yang bisa untuk di ikuti.

Suatu ketika, di depan rumah jono ada seorang tukan bakso yang lewat. Merasa lapar, jono kemudian memanggil tukang bakso tersebut.

“Bang bang, bakso bang.. “ pangil jono kepada tukang bakso.
Selang beberapa saat, tukang bakso itu lalu hampiri tempat tinggal jono untuk memarkir grobaknya, lantas ia menyiapkan semangkuk bakso yang lalu ia mulai mengolah satu persatu bahan seperti yang telah ia kerjakan kian lebih 17 th. waktu lalu.

Singkat narasi, si jono sudah menggunakan semangkuk baksonya. Saat ini giliran ia menunaikan kewajibannya, ia mengambil langkah untuk mengantarkan piring bakso itu ke tukang bakso yang masihlah menanti di depan tempat tinggalnya.

Sambil keluarkan duit duapuluh limapuluh ribu rupiah dari dompetnya, jono membayarkan duit itu pada tukang bakso.

Lalu abang bakso terima duit itu, kemudian meletakan mangkok yang ia terima ditempat pencucian. Lantas ia keluarkan dompet untuk mengambil kembalian dari duit yang ia terimanya.

Sembari memisah milah duit, sebelumnya ia kembalikan duit ke jono ia telebih dahulu menyimpan beberapa duit yang sudah di ambilnya dari dompet ke dua kaleng yang ia sediakan di samping di tungku memasaknya. Ia memasukan ke kaleng pertama, lalu kaleng ke-2. Kemudian, ia menyerahakan duit kembalian ke pada jono.

Jono yang penasaran lantaran si tukang bakso menyimpan duit ke dua kaleng, lalu membulatkan tekad ajukan pertanyaan pada tukang bakso itu.

" Pak, bila bisa saya tau… itu kaleng apa pak? Untuk celengan atau apa pak? ” Bertanya jono penasaran.

" Ou itu dik, iya dapat di katakan celengan” jawab si tukang bakso.

“Ko ada dua pak, untuk apa pak? ” jono semakin penasaran

“Iya ada dua, dua celengan akhirat saya. ” Jawab si tukang bakso, lalu ia meneruskan dengan

“Biasanya tiap-tiap saya terima duit dari pelangan, saya senantiasa mimisahkan mana sebagai hak saya serta mana yang saya menjadikan untuk tabungan akhirat saya. “

" Sebagai hak saya, umumnya saya simpan dompet. Itu untuk keperluan saya satu hari hari, beli bahan baku untuk bikin bakso s/d hirup anak istri. "

" Celengan pertama, itu saya peruntukan untuk sodakoh. Jadi tiap-tiap dari hasil pendapatan saya, sebelumnya saya pakai untuk yang lainya saya peruntukan untuk sodakoh dulu. Dari kotak ini, tiap-tiap bln. saya bakal bongkar serta saya sumbangkan ke seputar saya. Alhamdulilah, walau sedikit setiap taun saya berserta keluarga dapat menymbang kambing untuk kurban. Walau kambing nya tak gede gede sangat "

" Celengan ke-2, saya peruntukan untuk menyempurnakan rukun islam saya. Seperti kita tau, bila kita di wajibkan untuk naik haji manfaat menyempurnakan keislaman kita. Serta biaya untuk naik haji sendiri mahal, perlu cost yang banyak. Karenanya, saya beserta istri memiliki komitment untuk menabung sedikit untuk sedikit walau akhirnya sedikit. Serta alhamdulilah, sepanjang tujubelas th. saya mengerjakannya, akhirnya cukup lumayan. Dua th. mendatang, saya beserta istri isyaalloh bakal naik haji” demikian penjelasan si tukang bakso.

Sesudah pembicaraan dengan tukang bakso tadi, si jono lalu jadi ternyuh. Bisa jadi si tukang bakso mempunyai pekerjaan yang simpel, pendidikan yang tidaklah terlalu tinggi namun ia dapat untuk berencana kehidupan jauh tambah baik. Ia bahkan juga telah pikirkan akhirat, jauh jauh hari. Ia sukses memisahkan hartanya untuk sodahkoh, untuk kebutuhan sesama, sebelumnya hartanya di belajakan.

Yang kebayakan dari kita, umumnya sodakoh adalah uang bekas, bekas dari hasil yang kita belanjakan, itupun bila masihlah ada. Nyatanya, tambah lebih mulia tukang bakso dengan rencana keuangan yang lebih masak walaupun pekerjaan simpel, dari pada kita dengan keuangan yang lebih mapan, tetapi tidak sering memikirkan untuk sodakoh atau kurban, terlebih berupaya untuk naik haji. 

sumber:http://carikost.blogspot.co.id/2014/08/pelajaran-berharga-dari-seorang-tukang-bakso.html